Tentang Izzah
- Izzah Anisah
- Jakarta, DKI Jakarta , Indonesia
- Izzah Anisah, nama lengkap saya. Menyibukkan diri dengan pendidikan dan organisasinya, menulis di waktu senggang juga bagian dari hobi. salam sayang teman virtual!!
Blog Archive
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Sastraku : Puisi Hari Pahlawan
Guratan Juang
Oleh: Izzah Anisah
Ku ukir dengan sirat
Tentang
pejuang negeri
Tak ada
penat, tak ada rehat
Tuk tetap
lantang berdiri
Tegap
tubuhnya tanpa getar
Serak
serak suara mengguncang debar
Menolak
siksa diluar nalar
Dibawah
bumantara
Di tubuh
yang menelan banyak amunisi
Dari
tetes darah mengalir tak henti
Berkibarlah
bendera.
Wahai
dunia,
Kami
merdeka!
Seingin Aku
Sebuah Diksi
Nama yang terbingkai indah di hatiku.
Yang menjadi pelangi dalam hidupku.
Kau hadir dengan penuh warna, membuatmu berbeda dari yang lainnya, tapi terkadang kau menyilaukanku dengan cahayamu. Kau bentangkan sayapmu tuk membawaku terbang menuju puncak harapan. Tapi saat aku ingin meraih harapan itu, tiba tiba kau jatuhkan aku diantara angan semu. Membuatku jatuh tanpa secuil angan.
Terkadang kau menjadi madu dalam hidupku, memberi cerita manis dalam dilembaran buku kenanganku, tapi kau sendirilah yang menjadi air mata yang membuat aliran deras di pipiku.
Terkadang kau membuatku melayang dengan segala angan. Melanglang buana menuju tingginya puncak impian. Lalu, kau bangunkan aku saat mimpi itu hampir ku genggam dan segalanya hanya semu.
Tapi, inilah aku. Aku yang mencintaimu diatas penghianatan. Yang menerimamu diatas kesemuan. Yang menunggumu diatas ketidakpastian
Aku memang bukan sempurna
Tapi akau akan mencintaimu dengan hampir sempurna...
Meski jika kebersamaan bukanlah akhir dari penantianku, aku akan tetap bahagia karena telah mengenalmu,
Mengenalmu dengan segenap hatiku...
Sastraku: Puisi Fragmen Terakhir
Fragmen terakhir
Oleh: zzanisa
Untuk sepotong rindu yang membuncah,
Kutapaki jalan penuh gegabah
Untuk Sepotong rindu yang tak sempat terucap
Gemetar seluruh raga menghinggap
Tempat ini, di penghujung sua
Tak ada canda tak ada tawa
Lenyap sudah segala haluan
Hilang sudah seluruh angan
Teringat aku,
Bulan sabit dibibir merahmu
Paras teduh dan meneduhkan
Perangai penuh kebajikan
Kuletakkan fragmen terakhir
Sejauh cinta yang telah hadir
Menjelma seduku bak hujan enggan berhenti
Satu warsa silam, berhenti sudah sebuah nadi
Ku ucapkan,
Fragmen ini genap menjadi kenangan
Sastraku: Puisi Perihal Damba
Perihal Damba
Oleh : zzanisa
Tengoklah, si kuncir kuda
Tertuang ragu dalam cangkir angan
Teriring doa mengharap hadir lentera
Menuntun melanglang buana
Takkan Redup cahaya di matanya
Takkan Terbalik bulan sabit di bibirnya
Tegap berdiri di pucuk onak
Lantang tanpa getar hingga kelak
Tengoklah, si kuncir kuda
Menangkup hening di penghujung malam
Walau sekadar harapan semu
Meski rindu menghujam bak amunisi
Tanpa jeda tanpa henti
Perempuan sanggup menanti.
Dari,
Seluruh perempuan pedamba sua



